24 Januari 2012,
Ceritanya nih JJS sambil meninabobokkan Kaafhaya, wuih yang jual durian disepanjang jalan kok banyak banget ya?? Karena penasaran, mampirlah ke salah satu penjaja, nah baru tahu istilah durian bicara manis. Kata penjualnya, yang bicara manis dijaminin manis, boleh dicobain ditempat, dan ditukar jika tak manis. Tapi syaratnya tambah harga 100%. Sementara durian bicara manis harganya 40 ribu, yang pilih sendiri hanya 20 ribu, tapi ya itu durian tidak protes.
Muahalnyaaa, jadi terbayang-bayang durian gode alm (nenek:red) yang silahkan makan durian sepuas-puasnya dibawah pohonnya. Atau jika tidak sempat pulang kampung pun, setiap hari papa pulang nenteng durian minimal 3 buah, harganya? Cuma 10 ribu jika sedang musimnya. Eleh eleh, kapan di jakarta ini dapet durian enak dan murah ya??
Gak sampe ati beli durian 40 ribu, kita pindah ke tumpukan durian lain, judulnya juga bicara manis, tapi yang ini lebih masuk diakal, harganya mentok 25 ribu, dicicip ditempat dan boleh dibalikin jika tidak manis. Karena yakin sama kemampuan lidah, dibukalah durian pertama, anyep, ganti durian ke dua, nah manis nih. Dengan semangat ditentenglah tuh durian.
Keesokan hari, dengan semangat pula masak ketan sambil membayangkan kelezatan durian pilihan.
Begitu dibuka, ternyata tidak seluruh isi duriannya manis, bahkan ada yang keras. Mau dibalikin? Aduh repotnya nenteng2 nih durian yang sudah dibuka, ya sudahlah, terima saja kekalahan anda! Si tukang durian emang cerdas milih bagian yang manis atau cuma hoki aja ya?. Ini mah bukan durian bicara manis, tapi durian bicara karbit… Hehehe
Eleh-eleh, di Jakarta mana bisa makan durian jatuh di bawah pohonnyaa ya??
Tapi Alhamdulillah, yang penting kesampaian makan ketan durian ![]()









